
Jawa Tengah, //www.buserindonesia.id || Duduk sini Nak dekat pada bapak. Jangan kau ganggu ibumu. Turunlah lekas dari pangkuannya. Engkau lelaki kelak sendiri…………. (Petikan lirik lagu “Nak”, Iwan Fals)
A. Posisi Nyaman Ketika Duduk
Kenyamanan adalah kondisi yang diharapkan oleh semua orang, kapanpun, dimanapun dan di dalam posisi apapun. Kondisi nyaman tak terkecuali dalam hal posisi seseorang manakala duduk. Posisi duduk nyaman diistilahi dengan “posisi ergonomis”, yaitu posisi yang sangat penting untuk tulang bela- kang, yaitu harus efektif, nyaman, aman, dan efisien sehingga tidak menimbulkan keluhan-keluhan yang bisa memberatkan kita, Agar nyaman ketika duduk, selain perlu menata posisi tubuh, dibutuhkan pula bentuk dan bahan tertentu pada tempat duduknya. Terkadang, disertai dengan perangkat (alat bantu) tertentu, agar yang bersangkutan menjadi nyaman dalam duduknya.

Salah satu perangkat bantu itu berupa tali, yang di lingkarkan pada pinggang dan dihubungkan dengan temukan lutut dari salah satu kaki. Posisi duduknya adalah : kaki kiri disilakan, dan kaki kanan dijigang- kan. Tali ikat tersebut dikalungkan pada kaki yang dijigangkan, tepatnya di sekitar tekukan lutut. Ada berbagai bahan yang bisa digunakan untuk tali ikat, antara lain kain (misal : selendang) ataupun kulit. Dengan menyertakan alat bantu demikian ketika duduk, maka yang bersangkutan bakal merasakan kondisi “nyaman” dalam duduknya. Bilamanakah perangkat bantu itu mulai dipergunakan oleh war- ga masyarakat Jawa?
Baca Juga : Sejarah Panjang Batu : Antara “Sejarah Pemerintahan Kota” dan “Sejarah Daerah” Batu
B. Jejak Sejarah Tali Ikat Ergonomis
Sumber data ikonografis yang berupa seni arca maupun relief candi menunjukan bahwa “tali ikat ergonomis” sebagaimana itu terbukti telah keda- patan semenjak Masa Hindu-Buddha. Pada relief candi Borobudur dan Prambanan dari era kerajaan Mataram abad IX-X Masehi misalnya, perlihatkan adanya pemakaian tali ikat ergonomis. Data lainnya didapatkan pada seni arca. Salah satu contohnya, yang dijadikan sebagai studi kasus dan dibahas pada tulisan ini adalah foto dokumenter arca Dewa Surya yang berasal dari Karangrejo (Garum Kabupaten Blitar).
Dewa Surya berada dalam posisi duduk pada singgasananya yang di tempatkan di kereta (rata). Ada pertanda khusus (laksana) Dewa Surya, yang antara lain tergambar pada wahana (kendaraan)-nya, yang berupa kereta ditarik 7 (tujuh) ekor kuda berbeda dengan kereta Dewa Candra, yang hanya ditarik oleh 5 (lima) ekor kuda. Manakala duduk di samggsana kereta kuda, Dewa Surya duduk sandar santai dengan kondisi nyaman. Kaki kirinya dalam posisi bersila, sedangkan kaki kanandalam posisi jugang (varian sebutan Bahasa Jawa :”jigrang”).

Supaya lebih nyaman duduk, maka dipergunakan perangkat bantu yang berupa tali ikat dengan cara dilingkarkan pada pinggang kemudian dihubung-
kalungkan dengan tekukan lutut pada kaki kanan yang berada dalam posisi jingang. Amat mungkin tali ikat yang digukan berbahan lembar kain. Gambaran demikian serupa dengan yang diketemukan pada relief percandian di Jawa Tengah pada masa pemerintahan kerajaan Mataram. Hal itu memberi kita petunjuk bahwa penggunaan tali ikat ergonomis berlangsung panjang, mulai abad XI hingga memasuki masa kerajaan Majapahit pada abad XIV-XVI Masehi. Suatu pengaruh budaya India yang cukup lama berpengaruh di masyarakat Jawa pada masa lampau.
C. Pembukti “Ancien Ergonomic” Jawa Kuna
Prinsip ergonomis bukan hanya merupakan fenomena modern masa kini. Pada masa lampau pun, prinsip ergonomis telah cukup membudaya dalam Jawa, khususnya di lingkungan pwra bangsawan (ksatria). Bahkan, telah ada semenjak Masa Hindu- Buddha. Malah telah kedapatan ada pada abad IX dan awal abad X Masehi.
Telah sekilas sebagaimana terpapar di atas cukuplah memberi bukti (fakta) bahwa “kenyamanan” ketika duduk telah menjadi perhatiannya. Duduk bukanlah sembarang duduk. Seyogyanya, duduk dengan kondisi yang nyaman (ergonomis). Untuk menciptakan kondisi nyaman itu, konon digunakan alat bantu sederhana namun berfaedah, yang berupa tali ikat ergonomis.
Apah benar bahwa penggunaan tali ikat itu dapat memberi rasa nyaman dalam duduk? Silahkan anda cobakan sendiri. Apabila ternyata anda merasakan “nyaman” dalam duduk, berarti para leluhur kita tel- ah mempunyai kecanggihan dalam hal ergonomis.
Pewarta : Buser Indonesia/Citralekha

#selamatpagiindonesia #selamatpagibuserindonesia #buserindonesia.id #buserindonesia #infoterkinibuser #beritabuser #infobuser #infoterkinibuserindonesia #beritaindonesia
Apresiasi setinggi-tingginya
Apresiasi setinggi-tingginya Tentang sejarah ini